Arsip Kategori: Ide untuk skripsi dan tesis

Silahkan digunakan ide-ide ini, saya peroleh dari pengamatan sederhana sehari-hari. Mohon gunakan berbagai literatur untuk mengklarifikasinya.

Perpustakaan Nasional Langganan Database….MANFAATKAN

Berita baik ini saya dapat dari sebuah milist yang saya copas begitu saja ke tulisan ini tanpa mengurangi rasa hormat saya kepada penyebar berita pertamanya.

Fyi

Kabar baik bagi rakyat Indonesia yang sekarang sedang menempuh studi terutama di dalam negeri. Perpustakaan nasional RI telah berlangganan beberapa database jurnal internasional terkemuka untuk berbagai bidang ilmu, seperti SAGE, Taylor and Francis, Proquest, Gale – Cengage Learning, @My Library, Ulrichs – Periodicals Directory, EBSCO Host, IGI Global, Westlaw,
ISEAS dan ALA Publishing.
Anda hanya perlu mendaftar jadi anggota perpus secara online dan bisa mengakses (mengunduh) jurnal2 tersebut DI MANAPUN ANDA BERADA.
Caranya mudah: daftar dulu online di:
http://keanggotaan.pnri.go.id, nanti dpt username password, kemudian masuk ke: e-resources.pnri.go.id utk mendaftarkan username dan pasword.
Pihak perpusnas akan mengirimkan email aktivasi akun anda, dan VOILA!
Mohon bantu menyebarkan ke teman dan kolega yang sedang studi atau jadi peneliti/dosen. Mudah2an bisa dimanfaatkan secara maksimal, karena langganan jurnal ini dibiayai uang rakyat. Mohon di-share seluas-luasnya. Terima kasih!

AYO MANFAATKAN

Kepustakaan digital untuk review intervensi kesehatan

Setelah lama tidak menulis post baru akibat tumpukan kata dan kalimat yang harus saya susun untuk melewatkan satu semester saya di Flinders, akhirnya melihat visit yang tetap saja ada (meskipun sedikit- sedikit), berikut lanjutan post terkait sumber kepustakaan digital yang bisa diakses secara bebas (free).

Pernahkah teman-teman berpikir tentang beberapa hal berikut:

  1. Benarkah intervensi/program kampanye kondom pada anak usia sekolah dapat mengurangi angka kehamilan tidak diinginkan dan juga penyakit menular seksual, atau
  2. Apakah tindakan pembersihan luka dengan prosedur A (misalnya) pada luka lecet memberikan hasil yang sama baiknya dengan prosedur B

Saya yakin pernah, apalagi yang mau mencoba melakukan penelitian. Nah salah satu cara menjawab pertanyaan tersebut tentunya dengan studi literatur, mbah Google diubek-ubek untuk mencari tahu apakah kampanye kondom itu bermanfaat buat anak sekolah atau justru merugikan? hasilnya mungkin bermacam-macam ada tulisan formal ada blog atau website antah berantah yang muncul, pencarian diperketat, masuk ke Google Scholar dengan kata kunci condom, young, campaign, atau apalah, hasilnya bisa lebih spesifik ada banyak artikel baik yang ditemukan tetapi pusing jadinya. Mengapa? ada banyak artikel, hasilnya beda-beda terus intervensinya juga pastinya sedikit beda, ditambah subjek penelitiannya juga beda-beda, nah gimana dong menyimpulkannya?

Dalam dunia akademik cara/methods untuk menyimpulkan temuan dari banyak research seperti di atas disebut dengan systematic review dengan berbagai tehnik dan kedalamannya (ada meta-analisis, ada narrative review, ada realist review, dll). Singkat kata kalau kita ingin jawaban atas pertanyaan terkait efektivitas suatu intervensi kesehatan dan kedokteran maka mencari review yang sesuai adalah cara yang bijak, di dunia ilmiah ini lebih dikenal dengan “the best way to find evidence-based health practice”. Lalu apakah Mbah Google dengan Google Scholarnya tidak mengcover? jawaban saya iya, tetapi seperti yang saya sampaikan dalam tulisan bahwa googling saja tidak cukup, kalau sudah tahu sumbernya mengapa tidak pergi ke penyuplai aslinya? pertanyaanya SIAPA?

Ada beberapa sumber yang valid, salah satu yang menyediakan kontennya secara gratis adalah Cochrane Database of Systematic Review. Kepustakaan digital ini menyediakan akses ke ribuan systematic review di bidang kesehatan secara gratis bahkan dimulai dari mereka yang masih dalam tahap pengerjaan review dipersilahkan mendaftarkan aktivitas atau protokolnya, ini berguna untuk menghindari tumpang tindih aktivitas research yang memang sangat mungkin terjadi di era modern ini.

Silahkan akses ke Cochrane Library dan selamat mencoba,

Artikel terkait:

BMC, kepustakaan digital gratis dunia kedokteran dan kesmas

 

Free databases untuk mencari kepustakaan ilmiah bidang kesehatan; BioMed Central

Dalam sebuah tulisan: Googling saja tidak cukup, saya pernah mengemukakan kelemahan cara mencari bahan kepustakaan untuk tulisan ilmiah hanya dengan mengandalkan mesin pencari sakti Om Google. Mulai edisi tulisan ini saya secara reguler akan terus mengupdate sumber-sumber kepustakaan yang gratis tetapi bisa dikatakan sahih karena keberadaannya yang diakui dunia ilmiah internasional. Akan ada sedikit pembahasan mengenai kekurangan dan kelebihannya serta tentunya link untuk menuju ke sumbernya.

Kali ini saya kan mulai dengan BioMed Central. Databases ini didedikasikan untuk pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi kesehatan secara lebih luas dengan menyediakan akses gratis (terbuka) kepada para pembacanya untuk mengakses dan mendownload jurnal dari lebih 215 peer reviewed (telah direview oleh para pakar di bidangnya) jurnal berbahasa Inggris.

Jurnal yang tergabung dalam BMC tersedia online secara permanen dan bisa diakses segera begitu sebuah artikel disetujui untuk diterbitkan. Tujuannya untuk mempercepat desiminasi hasil penelitian ke pihak pihak yang berkepentingan. Jurnal yang tersedia di sini gratis karena pembiayaan justru dibebankan kepada penulis. Sudah sangat umum penulis memulai publikasi dari sebuah project research yang tentunya memiliki donor yang diharapkan juga bersedia menyisihkan anggaran untuk publikasi.

Lalu bagaimana dengan kualitasnya? kalau gratisan jelek dong….tidak karena seperti yang saya kemukakan seluruh jurnal adalah peer reviewed, sudah melalui proses seleksi dewan pakar, jadi jangan khawatir untuk menggunakannya dalam referensi karya ilmiah anda. Hal lain yang juga membuktikan kualitas jurnal dalam BMC adalah tersedianya indikator impact factor, sebuah indikator rumit yang dikembangkan untuk mengetahui seberapa besar artikel-artikel yang diterbitkan dalam jurnal tersebut berimplikasi bagi pengembangan ilmu pengetahuan dilihat dari berbagai hal, utamanya sitasi oleh para peneliti terhadap terhadap artikel yang diterbitkan dalam jurnal bersangkutan. Berikut adalah beberapa jurnal yang tergabung di dalam grup BMC:

  1. BMC Public health
  2. Conflict and health
  3. Environmental health
  4. dan masih banyak lagi.

Silahkan menuju langsung ke BMC databases dan manfaatkan semaksimal mungkin.

Pande

Mengapa googling saja tidak cukup?

Why can’t I just Google:

Saya termasuk pengajar yang suka memberikan penilaian akhir hanya dengan berdasarkan essay atau paper tanpa melalui ujian tertulis di ruang kelas. Saya menyadari ini seringkali menimbulkan masalah besar tidak hanya bagi mahasiswa tapi bagi saya yang menilai. Satu hal yang paling sering membuat saya pusing adalah ketika membaca sebuah kutipan yang dibuat mahasiswa dengan menggunakan sumber antah berantah atau wikipedia atau blog, atau website yang yang mereka temukan dari google, bahasa gaulnya googling.

Apakah ini salah, saya tidak mengatakan sepenuhnya iya, karena mencari informasi di google adalah sesuatu yang tidak bisa kita hindari, jelas karena kekuatan google dalam mencari sesuatu topik sangat bermanfaat. Saya selalu menggunakannya untuk mendapatkan semacam bayangan tentang topik baru yang saya ingin pelajari, seperti merasakan sejumput masakan, dapat feelingnya itu istilah saya. Tetapi jika kemudian menggunakan apa yang saya temukan itu sebagai referensi nanti dulu, ada banyak kriteria yang harus dipenuhi, google bisa menampilkan informasi dari sampah, dari website resmi organisasi yang berwenang di bidang yang kita geluti atau dari jurnal-jurnal ilmiah yang terpercaya. So sangatlah luas, pengetahuan menyaring informasi inilah yang dibutuhkan sebelum menulis atau belajar menulis. Jika kita ingin pendapat kita dipercaya orang maka referensi yang menjadi acuannya haruslah juga terpercaya.

Terkait sumber “sampah” yang saya sebutkan di atas, diantaranya adalah blog! Ya persis seperti blog yang saya kelola ini, mohon jangan pernah menggunakan blog saya sebagai referensi resmi! Itu sebabnya saya selalu berusaha menampilkan link ke berbagai sumber yang lebih terpercaya yaitu website resmi dan jurnal ilmiah. Yang juga tergolong kelompok ini adalah situs ensklopedia termasuk Wikipedia dan situs berita seperti Kompas atau Vivanews, kita tidak bisa menggunakan jenis sumber tersebut sebagai referensi dalam dunia ilmiah. Tapi ingat tidak semuanya, berita dari Kompas atau Vivanews bisa saja menjadi referensi jika memang yang kita kutip adalah kejadian/fakta/pernyataan yang kita kaji atau analisis.

Bagaimana dengan sumber sumber dari lembaga resmi misalnya WHO dan Depkes, kita bisa kategorikan ini dalam kelompok abu abu atau sering disebut grey literature. Yang juga termasuk kelompok ini adalah laporan program atau penelitian yang tidak dipublikasikan di jurnal ilmiah yang direview mitra bestari (kelompok pakar). Ada beberapa kriteria yang bisa diaplikasikan untuk menilai apakah grey literature bisa kita gunakan sebagai referensi. Tidak akan saya bahas di post ini, semoga bisa di post lainnya?

Kelompok besar literatur yang terakhir adalah yang paling viable kita gunakan sebagai referensi adalah yang bersumber dari text book dan jurnal ilmiah yang telah direview kelompok pakar. Mengapa? karena tulisan yang dimuat disini seyogyanya sudah melalui saringan setidaknya oleh beberapa reviewer yang menyatakan bahwa OK, ini sudah sesuai kaidah keilmuan dan layak dibaca serta berkontribusi positif bagi perkembangan ilmu pengetahuan. Sayangnya inilah yang justru menjadi kelemahan googling. Pencarian pada google.com atau google.co.id tidak secara langsung menampilkan sumber yang baik pada urutan teratas, seringkali malah yang muncul adalah blog atau bahkan halaman di wikipedia dan facebook, selain tidak sahih, ini juga kalau dilakukan terus menerus akan membuang banyak waktu dan energi.

Sebagai perusahaan dengan mesin pencari yang mempuni google tentunya menyadari kelemahannya, itu sebabnya kemudian google mengembangkan apa yang disebut sebagai google scholar, yang hasil pencariannya hanya akan menemukan scholarly articles. Saya sangat menyukai versi ini karena sifat pencariannya yang luas, penggunaan search terms yang mudah, bisa menemukan softcopy artikelnya (bila memang tersedia gratis) dan bisa disetting untuk link dengan library dimana kita berafiliansi. Tapi apakah cukup google scholar, jawabannya lagi-lagi tidak jika mohon dicatat: jika kita menginginkan sumber terbaik bagi tulisan kita. Semua mesin pencari memiliki kelemahan dan google scholar yang tidak lama dikembangkan pastinya memiliki kelemahan. Ini ibarat dokter umum yang bisa menangani semuanya tetapi ketika membutuhkan sesuatu yang lebih spesifik dan unggul, si dokter merujuk ke spesialis.

Siapakah spesialis itu, tentu saja perpustakaan akademik, baik yang hard (gedung) maupun online library (database). Ayo kita lebih banyak bicara online database, bukan berarti saya tidak menghargai hard library sama dengan online, bahkan saya menghargainya lebih besar. Mengapa? seperti yang anda temukan pada salah satu film youtube dibawah ini, hard library memiliki pakar atau librarian yang bisa membantu kita menemukan kepustakaan yang baik. Sayangnya di negara kita ini susah ditemukan, saya dengan jujur mengatakan librarian di perpustakaan FK Unud misalnya tidak banyak bisa membantu saya menemukan kepustakaan yang saya inginkan, librarian di Indonesia belum banyak dihargai seperti di negara maju. Scopus, Pubmed, Web of Science adalah diantara banyak database yang punya spesialisasi menemukan artikel-artikel penting atau juga kurang penting di bidang kesmas dan kedokteran plus sosial atau humanity. So cobalah googling databases tersebut cari tahu bagaimana cara menggunakannya dan cobalah, anda akan temukan bedanya.

Tulisan ini dimaksudkan hanya sekedar sharing dan bagi yang memiliki informasi lebih terkait hal ini silahkan ikut disharing, seperti yang saya sampaikan sebelumnya, karena ini tulisan blog, anda bisa buang saja ke tong sampah atau bila cukup berguna jadikan pijakan untuk mencari sumber yang lebih baik.

Sebuah film pendek dari La Trobe University dan satu lagi dari sorang librarian profesional di bawah bisa membantu penjelasan saya tentang topik ini. Selamat menonton.

Catatan: image tikus dan google diambil dari halaman http;//www.verbotomy.com

Pentingnya rekam medis; refleksi di sebuah Poliklinik “Internasional” RS Sang***

Siang kemarin saya membawa Ibu saya kontrol ke rumah sakit Sang*** setelah malam sebelumnya memperoleh pemeriksaan dokter. Kami membawa hasil pemeriksaan laboratorium dan radiologi yang baru saja selesai dikerjakan, sebelumnya saat pemeriksaan pertama dengan dokter, Ibu saya sudah memperoleh obat jadi seharusnya siang ini kami bertemu dokter hanya untuk mengklarifikasi hasil lab dan radiologi. Sayangnya dokter yang sebelumnya memeriksa Ibu saya sakit dan tidak bisa menemui kami, kami disarankan membuat perjanjian baru esok harinya, tetapi karena menurut saya pertemuan kali ini hanya untuk mengklarifikasi pemeriksaan penunjang dan sempitnya waktu yang tersedia saya meminta pihak RS mencarikan dokter lain.

Setelah menunggu beberapa lama kami bertemu dokter spesialis lainnya. Seperti biasa dokter menanyakan beberapa hal dan melihat hasil pemeriksaan penunjang. Satu hal yang kemudian membuat saya bingung adalah dokter ini bertanya pasien baru ya?, kemudian menanyakan ulang semua keluhan dan apa yang terjadi pada Ibu saya, bahkan beliau juga menanyakan beberapa hasil pemeriksaan fisik sebelumnya seperti tekanan darah…………dan taraaaaaa, lebih membuat saya kaget dokter mengatakan ‘kok gak ada ya catatannya disini” LOH……………..saya mendesak dokter dan menanyakan berulang kali mengapa tidak ada, perawat yang mendampingi dokter terlihat kebingungan dan mengatakan mungkin catatan sebelumnya disimpan dan lupa dibawa kesini. Saya mendesak lagi dengan mengatakan bukannya saat datang saya sudah mendaftar dengan identitas yang sama seperti kemarin dengan nomor pasien yang sama dan bahkan membawa rujukan pemeriksaan penunjang dari RS sendiri? Mungkin karena merasa terdesak perawat menelpon ke bagian rekam medik/admnistrasi dan menanyakan dimana disimpan catatan medis ibu saya. Sayangnya sampai selesai catatan medis tersebut tidak muncul.

Sangat beruntung saya memiliki latar medis, saya bisa dengan lancar menjelaskan semua keluhan, pemeriksaan, hasilnya dan obat-obat apa yang sudah diterima ibu saya. Jika tidak, bisa dibayangkan beberapa kemungkinan yang terjadi:

  1. Dokter memerlukan waktu yang lebih lama untuk menggali semua history medis Ibu saya, belum dengan semua resiko kesalahan atau lupa.
  2. Dokter melakukan pemeriksaan penunjang tambahan yang tidak diperlukan karena catatan sebelumnya tidak tersedia, lebih gawat lagi………………………….
  3. Dokter melakukan diagnosis yang berbeda.
  4. Dokter bisa saja memberikan terapi atau obat yang sama dengan merk dagang yang berbeda pada Ibu saya atau memberikan obat yang berbeda karena diagnosis yang berbeda.

Dalam dunia medis, history atau sejarah perjalanan kesehatan pasien sangatlah penting, disana tercatat berbagai hal diantaranya:

  1. Identitas pasien
  2. Catatan hasil wawancara dan pemeriksaan fisik yang dilakukan sebelumnya termasuk di dalamnya kondisi sosial dan kebiasaan/perilaku pasien
  3. Catatan hasil pemeriksaan penunjang laboratorium dan radiologi
  4. Catatan diagnosis penyakit
  5. Catatan terapi/obat yang diberikan termasuk riwayat imunisasi
  6. Catatan keperawatan
  7. Catatan perkembangan pasien termasuk pertumbuhan untuk anak-anak

Bagi Individu pasien catatan ini sangatlah penting, dokter bisa lebih mudah menegakkan diagnosis dan memberikan terapi karena memiliki catatan perjalanan medis pasien secara lengkap. Perlu diingat kesehatan pasien saat ini sangat dipengaruhi oleh berbagai hal yang terjadi di masa lalu termasuk penyakit yang pernah diderita dan berbagai terapi yang pernah diperoleh. Karena pengobatan modern juga bisa menimbulkan efek samping dan reaksi alergi, catatan medis pasien akan sangat berguna bagi dokter dan RS untuk sejak awal adanya kemungkinan ini. Reaksi silang antar obat yang sering terjadi juga bisa dihindari terutama ketika berganti dokter.

Dari sudut pandang kesehatan masyarakat rekam medis adalah sebuah catatan penting untuk melakukan kajian terkait faktor resiko penyakit dan juga hasil sebuah intervensi medis. Banyak studi yang berhasil memetakan faktor resiko terjadinya suatu penyakit hanya dengan melihat kumpulan rekam medis pasien (penelitian retrospektif). Di beberapa negara maju rekam medis masih disimpan setelah beberapa tahun kematian pasien untuk mengetahui resiko/penyebab kesakitan dan kematian di masyarakat. Hasil-hasil penelitian seperti ini tentunya akan sangat berguna bagi pengembangan program kesehatan masyarakat, disamping mengirit biaya penelitian jika studinya dilakukan secara prospektif. Tidak banyak penelitian dengan memanfaatkan rekam medis dilakukan di Indonesia karena berbagai hal, terutamanya karena kesulitan melakukan standarisasi catatan rekam medis dan ketidakdisiplinan dokter mengisi rekam medis.

Kembali ke kasus saya, ada kemungkinan dokter sebelumnya tidak mengisi karena mengira masih akan bertemu kami keesokan harinya dan dokter yang baru menemui kami tidak sadar mengucapkan tidak tercatat dan kemudian berusaha melakukan pembelaan dengan mengatakan catatannya tidak dibawa ke poliklinik, atau memang catatannya tidak diambil karena kemudian kami dilayani oleh dokter yang berbeda. Kemungkinan kedua sangat tidak masuk akal karena RS Sang*** sedang menuju akreditasi internasional yang menuntut adanya standar prosedur yang jelas, jadi sangat aneh jika catatan medis tidak diambil ketika pasien berobat kembali. Sementara jika opsi pertama yang benar maka saya hanya bisa berkata perlu lebih banyak effort untuk meyakinkan para dokter terutama spesialis untuk melakukan yang terbaik bagi pasiennya, tidak hanya memeriksa dan mengobati tetapi juga mencatat apa yang dilakukannya dengan baik.

Di depan poliklinik saya membaca tulisan besar DIAGNOSIS DAN TINDAKAN MEDIS DITULIS DENGAN HURUF KAPITAL………………..semoga implementasinya tidak hanya ketika akreditasi tetapi menyeluruh dan terus menerus.

Saya kemudian semakin yakin bahwa kontrol terhadap kelalaian ini bisa diperbaiki jika kita memiliki sistem integrasi rekam medis dengan identitas pasien secara digital terhubung dari ruang administrasi, ruang poliklinik dan berbagai ruang intervensi medis lainnya. Ini adalah peluang pagi pengembangan model sistem informasi RS yang komprehensif. Mahasiswa S1 dan S2 IKM dapat memulainya.

Salam,

Riset Kesehatan Dasar 2010; sudah bisa didownload

Bagi para mahasiswa kesehatan atau praktisi kesehatan lainnya mungkin tidak asing dengan berbagai survey untuk mengukur derajat kesehatan masyarakat dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, tetapi mungkin banyak yang tidak tahu tentang riset kesehatan di tingkat nasional. Riset Kesehatan Dasar (riskesdas) adalah riset berbasis survey secara nasional yang tidak hanya mengukur mortalitas dan morbiditas tetapi juga berbagai indikator biomedis dan sosial yang mempengaruhi kesehatan masyarakat.  Bahkan dari Riskesdas 2007 telah berhasil dikembangkan indeks pembangunan kesehatan masyarakat atas kerjasama litbangkes dan IAKMI serta beberapa FKM di Indonesia.

Bagi yang menyukai data sekunder sebagai sarana pembelajaran atau bagi yang membutuhkan ide untuk kajian lebih lanjut termasuk bagi skripsi dan tesis, maka riskesdas bisa menjadi sumber yang luar biasa potensial.

Silahkan masuk ke tautan yang disediakan Litbangkes Kemenkes di sini.

Salam

Tanah kosong dan sampah

Jika saja kita sedikit memberi perhatian pada lingkungan seputaran Denpasar (atau mungkin Bali) terutamanya daerah perumahan, maka ada satu hal yang mungkin sangat umum terlihat tetapi jarang memperoleh perhatian; ya sampah berserakan di tanah kosong. Gambar di post ini saya ambil persis di sebelah rumah tetangga, tanah kosong yang pemiliknya ada di luar Bali dan kemudian dibiarkan begitu saja dijadikan tempat pembuangan sampah oleh beberapa orang tak bertanggung jawab.

Lebih aneh lagi, di beberapa tempat, tanah kosong yang berisi sampah tersebut terpasang peringatan jelas dari pemiliknya atau pemerintah lingkungan setempat untuk tidak dijadikan tempat pembuangan sampah. Di areal kosong dekat perempatan Jalan Irawadi Panjer bahkan terdapat spanduk besar bertuliskan yang membuang sampah di tempat ini akan didenda minimal 500 ribu rupiah, tetapi sampahnya tetap saja berserakan. Lucunya lagi tidak jarang saya baca di beberapa tempat terdapat tulisan yang bernada makian dari si pemilik lahan kepada orang tak dikenal si pembuang sampah agar tidak mengulangi perbuatannya, ada bahasa Bali kasar ada juga bahasa Indonesia keras.

Pertanyaannya adalah mengapa bisa terjadi? mengapa ada kecenderungan ini, seberapa besar kecenderungan ini. Mahasiswa IKM bisa memulai meneliti dari proporsi tanah kosong di seputaran Denpasar yang dijadikan TPS oleh warga segitarnya, meneliti volume sampah yang dihasilkan dan jenisnya, serta kalau memungkinkan meneliti siapa pelakunya, mengapa dan motivasinya. Ini akan menjadi kajian yang sangat menarik bagi pengembangan pengelolalaan sampah di Denpasar. Kita ketahui bersama bahwa Pemerintah kota memang memiliki sistem pengangkutan sampah berbasis TPS yang diletakkan di berbagai lokasi di Denpasar, mungkinkah jumlahnya tidak memadai sehingga tidak bisa diakses dan mendorong warga memilih alternatif lain, ataukah penempatannya yang tidak sesuai sehingga membuat warga memilih jalan lain.

Hal lain yang juga bisa kita amati terkait pengelolaan sampah adalah adanya pengelola sampah “swasta”, biasanya dikoordinir lingkungan atau desa setempat, bahkan ada yang memasang tulisan pengelolaan sampah swadaya. Usaha ini memberikan lapangan pekerjaan bagi beberapa orang bahkan mendatangkan keuntungan karena ditempeli usaha daur ulang barang bekas dan memungut biaya tambahan bagi pelanggannya. Yang kemudian menarik dan mungkin menjadi lucu adalah sesungguhnya warga sudah membayar retribusi sampah yang dititipkan penarikannya di pembayaran PLN atau PDAM. Jika kemudian ada yang menerima manfaat langsung dari pajak yang mereka bayarkan karena lokasi TPS sementaranya dekat rumah mereka tetapi ada warga lainnya justru membayar swasta karena tidak ada pilihan lain dan tidak memiliki lahan kosong di sekelilingnya untuk dijadikan TPS maka sungguh ada ketidakadilan. Ini bahan kajian atau penelitian yang menarik, berapa proporsi warga yang memanfaatkan TPS pemerintah atau sistem pengangkutan sampah pemerintah dan berapa yang menggunakan jasa swasta? Apa alasannya? bagaimana pendapat mereka?

Ada banyak pertanyaan yang jawabannya akan memberi kita akademisi atau rakyat untuk kembali bertanya: MENGAPA HAK KAMI TIDAK DIBERIKAN

Salam